Utusan Khusus AS Kunjungi Kyiv Setelah Bertemu Putin, Upayakan Perdamaian Ukraina

Dua pejabat tinggi Amerika Serikat, Steve Witkoff dan Jared Kushner, tiba di Kyiv, Ukraina, Minggu (12/11). Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya baru menuju perdamaian dengan Rusia, sehari setelah keduanya mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow.
Mengingat wilayah udara Ukraina masih ditutup akibat konflik yang berkepanjangan, Witkoff dan Kushner melakukan perjalanan darat dari Polandia menuju Kyiv. Pertemuan mereka dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menjadi fokus utama kunjungan diplomatik ini.
Sebelumnya, di Moskow, Witkoff dan Kushner sempat menghabiskan lebih dari tiga jam dalam diskusi tertutup dengan Presiden Putin. Untuk menjamin keselamatan para utusan tersebut, Putin bahkan secara khusus mendeklarasikan gencatan senjata selama tiga hari.
Presiden Zelenskyy menyambut baik inisiatif ini. Melalui unggahan di media sosial, ia menyatakan Kyiv siap untuk diskusi yang "konstruktif" dengan rekan-rekan Amerika Serikatnya.
"Kami tertarik untuk mempercepat berakhirnya perang," tulis Zelenskyy. "Perdamaian diperlukan. Jaminan keamanan diperlukan. Perdamaian pascaperang yang adil dan berkelanjutan diperlukan. Proposal kami sudah disiapkan."
Kunjungan ini semakin diperkuat dengan kehadiran sejumlah penasihat keamanan nasional dari negara-negara Eropa. Kantor berita Reuters melaporkan, mengutip sumber yang familiar dengan situasi tersebut, penasihat dari Inggris, Prancis, dan Jerman juga berada di Kyiv untuk mengadakan pembicaraan bersama para utusan AS.
Steve Witkoff dan Jared Kushner merupakan sosok yang tidak asing dalam lingkaran politik Amerika Serikat. Kushner, menantu dari mantan Presiden Donald Trump, bersama Witkoff yang dikenal sebagai pengusaha properti terkemuka, seringkali terlibat dalam misi diplomatik sensitif selama pemerintahan Trump.
Momentum yang sempat dibangun oleh mantan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik yang kini berusia empat setengah tahun ini telah menunjukkan tanda-tanda kemandekan. Pembicaraan sebelumnya dengan Putin di Kremlin pada Januari lalu gagal menghasilkan terobosan signifikan.
Meski ada harapan akan terobosan dengan pemimpin Rusia tersebut pada Sabtu lalu, tidak ada pengumuman spesifik yang disampaikan setelah pertemuan. Yuri Ushakov, penasihat kebijakan luar negeri Putin, menggambarkan pembicaraan di Moskow itu "konstruktif, jujur, dan bermanfaat", namun tanpa merinci hasil konkret.
Ushakov menambahkan, diskusi tersebut juga menyentuh isu-isu ekonomi dan potensi proyek-proyek besar antara Rusia dan AS. Ini mengindikasikan bahwa perundingan tidak hanya terbatas pada aspek keamanan.
Selama perundingan-perundingan sebelumnya, para negosiator kerap menghadapi kesulitan untuk mempertemukan kedua belah pihak dalam sejumlah isu kunci. Salah satu isu paling pelik adalah masa depan wilayah Donbas yang kaya industri di timur Ukraina, sebuah area yang menjadi pusat konflik intens.
Bagi Ukraina, jaminan keamanan yang kuat dari sekutu-sekutu Eropa dan Washington adalah hal krusial. Jaminan ini dianggap satu-satunya cara untuk mencegah agresi Rusia lebih lanjut terhadap kedaulatan negara tersebut.
Pernyataan dari Kyrylo Budanov, kepala staf Zelenskyy, kepada The New York Times pekan lalu juga memberikan gambaran suram. Ia tidak berharap pertempuran akan berakhir sebelum musim semi 2027.
Budanov juga memprediksi serangan udara strategis Rusia akan terus berlanjut terhadap Ukraina sepanjang musim dingin tahun ini. Konflik memang telah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, dengan Putin berambisi penuh untuk menguasai Donbas dan melancarkan serangan drone ke ibu kota Ukraina.
Sementara itu, Ukraina membalas dengan fokus serangan drone terhadap sektor energi Rusia. Mereka juga menargetkan peritel daring jauh di dalam wilayah Rusia untuk membawa dampak perang lebih dekat kepada publik Rusia sendiri.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor











