WHO Rilis 7 Faktor Risiko Demensia Terbaru, Termasuk Polusi Udara

Badan Kesehatan Dunia atau WHO merilis panduan terbaru yang mengidentifikasi tujuh kondisi kesehatan baru sebagai faktor risiko demensia yang dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif manusia. Tambahan tujuh faktor risiko demensia ini melengkapi 12 unsur pemicu yang sebelumnya telah ditetapkan oleh lembaga kesehatan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa tersebut.
Hingga saat ini, dunia medis belum menemukan obat yang mampu menyembuhkan penyakit yang merusak daya ingat dan kemampuan berpikir ini secara total. Kendati demikian, data WHO menunjukkan bahwa sekitar 45 persen dari keseluruhan faktor risiko tersebut sebenarnya dapat dimodifikasi atau dicegah melalui intervensi gaya hidup dan penanganan medis yang tepat. Beberapa aspek lingkungan serta kebiasaan sehari-hari seperti paparan polusi udara, konsumsi tembakau, isolasi sosial, hingga kurangnya aktivitas fisik menjadi variabel yang dapat dikendalikan oleh masyarakat.
Adapun ketujuh faktor risiko baru yang dirilis oleh WHO meliputi stroke, cedera otak traumatis, gangguan penglihatan, masalah tidur, infeksi HIV, polusi udara, serta penggunaan terapi hormon menopause.
Terkait terapi hormon menopause, WHO secara spesifik tidak merekomendasikan metode ini sebagai langkah pencegahan demensia bagi perempuan pascamenopause yang telah berusia 65 tahun ke atas. Rekomendasi tersebut dikeluarkan karena belum adanya bukti ilmiah yang cukup kuat untuk menyatakan bahwa terapi hormonal mampu melindungi fungsi kognitif, meskipun perubahan hormon saat menopause kerap memengaruhi suasana hati serta memori jangka pendek.
Kondisi berikutnya yang mendapat perhatian serius adalah stroke, sebuah gangguan fatal yang terjadi ketika aliran darah menuju otak terhambat atau saat pembuluh darah di area kepala pecah. Pendiri Amen Clinics di California, Daniel Amen, menjelaskan bahwa setiap gangguan kesehatan yang menyerang jantung serta sistem pembuluh darah akan memberikan dampak langsung pada kualitas otak manusia. Penurunan pasokan darah bersih dan oksigen secara kronis akibat gangguan kardiovaskular inilah yang kemudian meningkatkan kerentanan seseorang terhadap penurunan daya ingat.
Selain stroke, cedera otak traumatis mulai dari tingkat ringan seperti gegar otak akibat benturan hingga cedera fisik yang parah juga dikategorikan sebagai pemicu kerusakan kognitif jangka panjang. Dampak dari cedera fisik ini sering kali tidak langsung terlihat saat kejadian, melainkan muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk gangguan emosi atau penurunan fungsi otak yang drastis.
"Mereka yang mengalami cedera otak akhirnya harus menemui psikiater karena masalah pengendalian emosi, depresi, maupun kecemasan, padahal penyebabnya sebenarnya adalah kecelakaan saat mengendarai kendaraan salju di usia 30-an," ujar Amen memberikan ilustrasi kasus medis yang sering ditemukannya.
Faktor lain yang tidak boleh diabaikan adalah masalah sensorik seperti gangguan penglihatan serta gangguan tidur kronis. Mengingat sebagian besar area otak manusia didedikasikan untuk memproses informasi visual, kerusakan pada indra penglihatan secara tidak langsung akan mengurangi stimulasi aktif pada sel-sel saraf otak. Sementara itu, saat manusia tertidur, otak melakukan proses pembersihan limbah metabolisme secara alami, yang mana proses ini akan terhambat pada penderita gangguan tidur seperti sleep apnea dan memicu akumulasi protein berbahaya mirip penderita Alzheimer.
Infeksi virus HIV yang menyerang sistem kekebalan tubuh juga berkontribusi pada penurunan kesehatan saraf pusat jika tidak segera ditangani dengan terapi medis yang tepat. Peradangan kronis akibat virus ini dapat merusak jaringan otak, meskipun penggunaan terapi antiretroviral secara disiplin telah terbukti mampu meminimalkan potensi kerusakan kognitif parah pada pasien.
Terakhir, akumulasi polutan di udara luar ruangan maupun di dalam rumah tangga juga dikonfirmasi sebagai ancaman nyata bagi kesehatan jangka panjang organ otak manusia. WHO menyarankan agar masyarakat membatasi paparan partikel halus berbahaya karena paparan racun lingkungan dalam jangka panjang terbukti mempercepat degenerasi saraf. Melalui identifikasi faktor-faktor baru ini, publik diharapkan dapat mengambil tindakan preventif yang lebih terarah guna melindungi kesehatan fungsi otak sejak dini.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor










