Lonjakan Kasus Stroke pada Usia Muda, Kenali Gejala dan Cara Pencegahannya

Kasus stroke dan gangguan vaskular kini semakin sering menyerang kelompok dewasa muda di rentang usia 20 hingga 40 tahun. Fenomena kesehatan yang mengkhawatirkan ini menunjukkan pergeseran demografis dibandingkan dekade sebelumnya yang didominasi pasien lanjut usia.
Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Rumah Sakit Lifeline India, Dr Anoop Kumar Singh, menyebut perubahan pola hidup menjadi pemicu utama tren ini. Rutinitas kerja yang menuntut mobilitas rendah serta kebiasaan hidup tidak sehat berkontribusi pada munculnya hipertensi, diabetes, dan obesitas di usia produktif.
Konsumsi alkohol berlebih serta kebiasaan merokok juga memperburuk risiko serangan jantung dan stroke sejak dini. Selain faktor perilaku, riwayat medis keluarga turut menentukan kerentanan seseorang terhadap penyakit pembuluh darah.
Predisposisi genetik harus diwaspadai jika orang tua memiliki riwayat diabetes, hipertensi dini, atau gangguan pembekuan darah. Mereka yang memiliki catatan kesehatan keluarga seperti ini disarankan melakukan pemeriksaan medis dasar sejak usia 20 tahun.
Banyak penderita menganggap keluhan awal stroke sebagai kelelahan biasa atau sekadar migrain. Ketidakpahaman mengenai gejala ini sering menyebabkan keterlambatan penanganan medis yang berakibat fatal.
Tanda bahaya stroke antara lain munculnya masalah fisik secara mendadak pada satu sisi tubuh. Misalnya, seseorang tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat berjalan atau tubuhnya cenderung miring ke satu arah tanpa kendali.
Gangguan penglihatan secara tiba-tiba pada salah satu mata juga menjadi indikator awal yang harus segera diantisipasi. Hal serupa berlaku bagi wajah yang tampak tidak simetris saat tersenyum atau mulut yang meneteskan air liur secara tidak sadar.
Rasa lemas, berat, atau kebas pada salah satu lengan atau kaki sering kali menjadi sinyal kerusakan saraf akibat gangguan aliran darah. Selain itu, penderita mungkin mengalami bicara pelo atau mendadak sulit memahami instruksi lawan bicara.
Metode deteksi dini yang dianjurkan oleh Dr Anoop Kumar Singh dikenal dengan akronim BE-FAST untuk mempermudah masyarakat mengenali serangan stroke. Huruf B merepresentasikan balance, yakni hilangnya keseimbangan atau koordinasi gerak tubuh secara tiba-tiba.
Huruf E merujuk pada eyes yang ditandai dengan gangguan penglihatan mendadak, sementara F adalah face yang menunjukkan wajah tidak simetris. A merupakan arms untuk memantau ketidakmampuan mengangkat kedua tangan secara sejajar dan stabil.
S mewakili speech, yang mencakup kesulitan berbicara atau suara yang terdengar tidak jelas. Terakhir, T adalah time, pengingat bahwa setiap detik sangat berharga untuk segera menghubungi layanan darurat atau rumah sakit terdekat.
Penerapan gaya hidup aktif dan pemantauan kesehatan rutin merupakan langkah pencegahan paling efektif bagi generasi muda. Mengenali gejala sedini mungkin dapat mencegah risiko cacat permanen atau kematian akibat stroke.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor

















