Gletser Swiss Kembali Catat Kehilangan Es yang Sangat Signifikan Tahun 2026

Gletser di wilayah Swiss kehilangan lebih dari 5 persen volume esnya sepanjang tahun 2026. Penurunan drastis ini mengonfirmasi tren pelelehan masif yang terus berlanjut di pegunungan Alpen akibat pemanasan global.
Matthias Huss, pemimpin jaringan pemantauan gletser Swiss atau GLAMOS, merilis data ini bersama Akademi Ilmu Pengetahuan Swiss. Setiap musim panas, ia melakukan observasi langsung ke lapangan untuk mengukur ketebalan es yang tersisa di puncak pegunungan.
Penelitian Huss menunjukkan bahwa kondisi memprihatinkan ini mencapai puncaknya pada 2022 dengan kehilangan 6 persen es. Tahun ini, meskipun angka sedikit lebih rendah yaitu 5,5 persen berkat cadangan salju musim dingin, situasinya tetap kritis. Gletser raksasa seperti Rhône dan Aletsch bahkan mencatat rekor kehilangan es tahunan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Huss menggambarkan lanskap pegunungan tersebut kini menyerupai permukaan bulan yang kering dan mati. Beberapa gletser sudah tidak lagi menyisakan es, hanya menyisakan batuan terbuka yang terpapar suhu panas secara terus-menerus.
Fenomena ini membawa dampak serius karena gletser berfungsi sebagai menara air bagi Eropa. Es tersebut menyimpan salju musim dingin dan melepaskannya secara perlahan saat mencair untuk mengisi aliran sungai utama seperti Rhine dan Danube.
Ketika sungai kehilangan volume air, jalur transportasi logistik terganggu dan pembangkit listrik tenaga nuklir terpaksa berhenti beroperasi karena kekurangan pendingin. Gangguan ini mengancam ketahanan pangan dan kestabilan ekonomi di berbagai wilayah Eropa yang bergantung pada aliran sungai tersebut.
Selain masalah air, hilangnya gletser menghilangkan perekat alami yang menjaga stabilitas struktur pegunungan. Tanpa keberadaan es dan permafrost atau lapisan tanah beku, risiko bencana tanah longsor meningkat secara eksponensial.
Desa Blatten di Swiss menjadi contoh nyata dampak bencana ini setelah tertimbun 9 juta meter kubik es dan batuan tahun lalu. Penduduk yang selamat kini masih hidup di pengungsian tanpa kepastian apakah mereka dapat kembali ke tanah kelahiran mereka.
Huss menegaskan bahwa pemanasan iklim bertindak sebagai katalis utama yang memicu keruntuhan ekosistem pegunungan. Dia menepis argumen pihak yang menyangkal perubahan iklim, menyatakan bahwa bukti di lapangan sudah sangat jelas dan nyata.
Jika tren pemanasan global saat ini tidak segera dihentikan, para ahli memprediksi seluruh gletser di Swiss akan punah menjelang akhir abad ini. Lanskap pegunungan Alpen yang ikonik di masa depan akan terlihat sangat berbeda dari apa yang kita kenal sekarang.
Baca juga tulisan lainnya dari Nadia Safitri
Penulis: Nadia Safitri
Editor: Beritana Editor













