Harga Minyak Tembus US$95 per Barel Usai Konflik Militer AS dan Iran Memanas

Harga minyak mentah dunia melonjak hingga menembus level US$95 per barel pada Rabu (2/9/2026) setelah eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu kekhawatiran global. Lonjakan harga energi ini memicu ketakutan pasar terhadap potensi kenaikan inflasi di berbagai negara serta kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Data perdagangan menunjukkan harga minyak mentah jenis Brent menguat 0,92 persen ke posisi US$95,52 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat melesat 0,89 persen ke angka US$91,02 per barel.
Kenaikan ini merupakan kelanjutan dari reli tajam pada perdagangan Selasa (1/9/2026) saat kedua kontrak berjangka minyak tersebut melonjak lebih dari US$4 per barel. Pemicunya adalah serangan udara militer Amerika Serikat yang menyasar wilayah Iran sebagai bentuk balasan atas serangkaian aksi di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan memuncak saat Komando Pusat Amerika Serikat menggempur sejumlah fasilitas pertahanan, radar, dan aset maritim milik Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas upaya serangan IRGC terhadap kapal komersial di Selat Hormuz dan personel militer Amerika yang berada di kawasan tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit yang menjadi titik distribusi utama, di mana sekitar seperlima dari total konsumsi minyak dunia melintas melalui jalur maritim ini setiap harinya. Pihak Iran membalas dengan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer Amerika di Yordania dan serangan pesawat nirawak ke fasilitas persenjataan di Bahrain.
Situasi ini turut menekan bursa saham global, termasuk Wall Street yang ditutup melemah pada sesi sebelumnya. Indeks Dow Jones merosot 0,79 persen, sedangkan Nasdaq jatuh 1,03 persen di tengah ketidakpastian geopolitik yang mendalam.
Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun juga mencatat imbal hasil yang naik hingga menyentuh 4,78 persen. Pengamat investasi dari Baird, Ross Mayfield, menyatakan pasar saham cenderung sulit mencerna volatilitas tinggi yang terjadi pada pasar obligasi belakangan ini.
Mayfield memprediksi The Fed kemungkinan menahan suku bunga pada September 2026, meski ia melihat peluang kenaikan suku bunga setidaknya satu kali sebelum akhir tahun. Sentimen ini memberikan tekanan tambahan bagi para pelaku pasar yang terus mengawasi perkembangan di Timur Tengah.
Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG justru melawan arus dengan menguat 1,14 persen ke level 6.599,94 pada Selasa (1/9/2026). Pergerakan positif ini ditopang oleh aksi beli bersih investor asing yang mencapai Rp2,03 triliun.
Meski IHSG menguat, nilai tukar rupiah bergerak stagnan di posisi Rp17.710 per dolar AS. Kondisi ini dipengaruhi oleh menguatnya indeks dolar global dan tingginya imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun yang berada di level 6,99 persen.
Investor domestik disarankan untuk mencermati instrumen yang memiliki stabilitas nilai di tengah volatilitas tinggi ini. Beberapa opsi yang dinilai aman mencakup Sukuk Ritel SR025 dengan kupon tetap 6,9 persen per tahun, reksadana pasar uang, hingga akumulasi aset emas secara bertahap.
Laporan dari American Petroleum Institute mencatat persediaan minyak mentah Amerika Serikat turun sebesar 2,6 juta barel pada pekan yang berakhir 28 Agustus 2026. Penurunan stok ini menambah tekanan pada harga minyak dunia yang kini berada dalam tren kenaikan signifikan.
Baca juga tulisan lainnya dari Putri Rahayu
Penulis: Putri Rahayu
Editor: Beritana Editor














