Krisis Energi di Libya, Warga Antre Bahan Bakar hingga Padam Listrik

Libya saat ini tengah menghadapi krisis energi parah yang melumpuhkan aktivitas ekonomi serta kehidupan sosial warga di berbagai wilayah negara tersebut.
Kondisi ini telah berlangsung selama lebih dari enam minggu, ditandai dengan kelangkaan bahan bakar minyak, pemadaman listrik yang berkepanjangan, hingga krisis air bersih.
Situasi tersebut memicu gelombang demonstrasi yang berujung pada kekerasan, di mana masyarakat mulai memblokir jalan raya dengan membakar ban di sejumlah titik strategis. Warga juga melakukan aksi barikade di depan gedung-gedung pemerintah sebagai bentuk protes atas memburuknya layanan dasar.
Di ibu kota Tripoli, antrean panjang kendaraan terlihat mengular di stasiun pengisian bahan bakar meski suhu udara mencapai 40 derajat Celcius. Ahmed Al-Sharif, seorang sopir truk berusia 49 tahun, mengaku harus menunggu hingga tiga hari hanya untuk mendapatkan solar.
Kelangkaan pasokan memicu lonjakan harga di pasar gelap yang mencapai 8 dinar Libya atau sekitar 1,26 dolar AS per liter. Angka tersebut tercatat melonjak hingga 50 kali lipat dari harga subsidi resmi pemerintah.
Beban ekonomi ini turut menghantam sektor bisnis skala kecil dan menengah di seluruh negeri. Khaled Ibrahim, seorang pemilik supermarket, terpaksa menanggung kerugian besar setelah mesin pendingin miliknya mati akibat krisis listrik yang mencapai 10 jam sehari.
Dampaknya, barang-barang beku di tokonya membusuk dan layanan air dingin bagi pelanggan tidak lagi tersedia. Hal serupa dialami Rafaa Zaid, seorang pemilik kafe yang memutuskan menutup total usahanya karena ketiadaan pasokan air bersih bagi operasional harian.
Gangguan air bersih ini terjadi akibat terhambatnya operasi sistem Great Man-Made River, yaitu jaringan pipa raksasa yang menjadi tulang punggung suplai air tawar Libya. Meski Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika, ketergantungan pada impor bahan bakar olahan tetap tinggi akibat keterbatasan infrastruktur kilang domestik.
Juru bicara Brega Petroleum Marketing Company, Ahmed Al-Masallati, menyebutkan bahwa gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan krisis energi global turut menghambat distribusi bahan bakar. Selain itu, penurunan produksi di kilang Zawia yang disebabkan oleh masalah keamanan dan krisis listrik memperburuk pasokan lokal.
Bashir Al-Marash selaku Ketua Perusahaan Listrik Umum Libya berjanji bahwa masalah listrik akan teratasi dalam waktu dua minggu ke depan. Namun, pakar energi dari Universitas Omar Al-Mukhtar, Tariq Al-Tarhouni, memiliki pandangan berbeda mengenai akar persoalan ini.
Menurutnya, kesulitan yang dialami negara tersebut merupakan krisis tata kelola sistem energi secara menyeluruh, bukan sekadar kendala pada pembangkit listrik saja.
Baca juga tulisan lainnya dari Rizky Pratama
Penulis: Rizky Pratama
Editor: Beritana Editor












