Maulid Nabi: Adab dan Kekhusyukan Saat Memuliakan Nabi

Umat Islam seluruh dunia menyambut bulan Rabiul Awal sebagai momentum kelahiran Nabi Muhammad saw. Momentum ini di Indonesia kerap dirayakan dengan pembacaan Al-Qur’an, shalawat nabi, serta sirah atau sejarah Nabi Muhammad.
Ekspresi kebahagiaan dan cinta atas kelahiran manusia mulia ini merupakan wujud syukur. Hal ini sejalan dengan firman Allah swt dalam Al-Qur’an:
قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
Artinya, “Katakanlah (Muhamad), ‘Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS Yunus [10]: 58).
Meski demikian, terdapat adab penting yang perlu diperhatikan saat peringatan Maulid Nabi berlangsung. Kekhusyukan dan penghayatan mendalam menjadi kunci agar acara tersebut meninggalkan kesan spiritual yang kuat.
Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, dalam kitabnya at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ul Maulid bil Munkarat, menjelaskan penghormatan terhadap Nabi tidak berubah baik saat beliau hidup maupun setelah wafat. Kewajiban menghormati Nabi tetap berlaku ketika nama, kisah, atau teladannya disebut.
Penjelasan ini merujuk pada Syekh Qadhi Iyadh dalam kitab asy-Syifa fi Huquqil Musthafa, yang menyatakan:
اِعْلَمْ أَنَّ حُرْمَةَ النَّبِي بَعْدَ مَوْتِهِ وَتَوْقِيْرِهِ وَتَعْظِيْمِهِ لاَزِمٌ، كَمَا كَانَ حَالَ حَيَاتِهِ، وَذَلِكَ عِنْدَ ذِكْرِ حَدِيْثِهِ وَسُنَّتِهِ وَسِمَاعِ اِسْمِهِ
Artinya, “Ketahuilah bahwa kemuliaan Nabi setelah wafatnya, memuliakan dan mengagungkannya itu tetap sebagaimana ketika Nabi masih hidup. Hal itu (memuliakan Nabi setelah wafat) adalah ketika disebut kisah dan sunahnya, serta ketika mendengar namanya.” (KH Hasyim Asy’ari, at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ul Maulid bil Munkarat, halaman 26-27).
Baca juga tulisan lainnya dari Beritana Update
Penulis: Beritana Update
Editor: Beritana Editor
















