
Kawasan Campground Centhung Blumbang di lereng Gunung Lawu kini menjadi destinasi wisata alam yang menarik perhatian wisatawan. Terletak di Dusun Blumbang, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, lokasi ini menyuguhkan kolam alami berbatu dengan air jernih yang menjadi magnet utama bagi pengunjung.
Transformasi kawasan ini bermula dari keprihatinan warga terhadap kondisi sungai yang terpapar limbah rumah tangga. Sebelum menjadi area rekreasi, lahan ini merupakan kebun pribadi yang ditanami kopi, jeruk lemon, dan jambu.
Inisiatif perubahan kawasan tersebut mulai digagas pada tahun 2020 oleh masyarakat setempat. Pemilik lahan, Edi Sukatno, mengungkapkan bahwa warga awalnya hanya ingin membersihkan aliran sungai agar tidak lagi menjadi tempat pembuangan limbah desa.
Kegiatan bersih-bersih sungai tersebut dilakukan secara bertahap bersamaan dengan penataan area di sekitar kolam alami. Istilah centhung sendiri merujuk pada cekungan alami di dasar sungai yang berbatu dan menjadi karakteristik unik lokasi ini.
Popularitas destinasi ini kemudian tumbuh berkat unggahan pengunjung di media sosial setelah mereka mendokumentasikan keindahan alam saat memetik buah di kebun. Setelah pembersihan dirasa cukup, area ini akhirnya dibuka untuk umum pada 7 Agustus 2020.
Pengelolaan objek wisata dilakukan secara kolaboratif antara pemilik lahan dengan warga desa setempat. Selain menyediakan sarana perkemahan dan wisata air, pengelola tetap memprioritaskan kelestarian habitat flora dan fauna di sepanjang aliran sungai.
Pengunjung yang datang kini dapat menikmati berbagai aktivitas luar ruangan, mulai dari berkemah hingga menyusuri sungai. Jalur sungai di kawasan ini juga terhubung dengan akses menuju Air Terjun Pringgodani yang tersohor.
Fenomena munculnya tempat wisata berbasis komunitas seperti Centhung Blumbang menunjukkan besarnya potensi pariwisata berbasis lingkungan di Jawa Tengah. Keberadaan destinasi ini sekaligus menjadi bukti nyata bahwa keterlibatan aktif warga dapat mengubah area tidak terurus menjadi lahan produktif yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat desa.
Dalam konteks pengembangan wisata lokal, langkah masyarakat Tawangmangu ini bisa menjadi contoh pengelolaan mandiri. Fokus pada pelestarian alam serta manajemen kolaboratif membuat daya tarik wisata tersebut bertahan meski di tengah gempuran destinasi modern lainnya.
Baca juga tulisan lainnya dari Sarah Kusuma
Penulis: Sarah Kusuma
Editor: Beritana Editor
